Bahkandalam konteks evaluasi diri ini Umar Ibn Khattab pernah berkata "Evaluasi dirimu sebelum Engkau dievaluasi orang lain". Hal ini mutlak diperlukan, sebab Allah senantiasa mengawasi dan mengevaluasi tindakan manusia (QS. jujur, mengatakan sesuatu sesuai dengan apa adanya. Orang yang menilai demikian dalam agama Islam dikenal dengan
Demikianlahsahabat bacaan madani 5 tips menilai orang lain menurut imam Al-Ghazali. Dari 5 tips tadi bisa kita simpulkan bahwa kita dilarang berburuk sangka. Kita di anjurkan untuk berbaik sangka kepada orang lain. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam Al-Quran,
Kalauorang berkaca sebelum menilai orang lain, tidak ada orang yang sok suci mengkahimi sesamanya. Tapi, seindah-indahnya belahan jiwa, tidak akan menjadi jodoh, jika kita tidak memperlakukannya dengan hormat, dengan lembut dan mesra, dan dengan upaya untuk menjadikan kehadiran Anda sebagai pembahagiannya. Dalam Islam diam adalah lebih
Yangsenang untuk menilai dan melabel orang lain. Bila kita dapat membuang sifat ini, dan menggantikannya dengan rasa menerima dan empati, kita akan menjadi sesuatu yang sangat membantu. Dan secara tidak langsung, kita akan merasa lebih gembira dan bahagia disepanjang berlangsungnya proses ini. InsyaaAllah. Semoga Allah merahmati kita semua.
Umar ibn al-Khattab r.a. mengandalkan tiga parameter dalam menilai perilaku seorang laki-laki. Dia bertanya, "Apakah kau pernah pernah melakukan transaksi dagang dengannya? Apakah kau pernah bepergian dengannya? Apakah kau pernah menjadi tetangganya? Jika tidak, maka janganlah menilai orang itu karena kau belum benar-benar berurusan
hJGEJ. Islam mewajibkan setiap umatnya untuk saling mengingatkan dan menasehati. Namun dalam mengingatkan seseorang, terdapat beberapa cara tertentu yang harus diperhatikan. Berikut ini adalah beberapa cara mengingatkan orang lain dalam Islam 1. Nasehati dengan diam-diamAl Hafizh Ibnu Rajab berkata “Apabila para salaf hendak memberikan nasehat kepada seseorang, maka mereka menasehatinya secara rahasia… Barangsiapa yang menasehati saudaranya berduaan saja maka itulah nasehat. Dan barangsiapa yang menasehatinya di depan orang banyak maka sebenarnya dia mempermalukannya.” Jami’ Al Ulum wa Al Hikam, halaman 77Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri menuturkan,“Jika kamu hendak memberi nasehat sampaikanlah secara rahasia bukan terang-terangan dan dengan sindiran bukan terang-terangan. Terkecuali jika bahasa sindiran tidak dipahami oleh orang yang kamu nasehati, maka berterus teranglah!” Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 442. Nasehati dengan lemah lembutAllah Ta’ala berfirman,فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya Fir’aun dengan kata-kata yang lemah lembut.” QS. Ath Thaha 44Baca jugaMengenal Diri Sendiri Dalam IslamHakikat Manusia Menurut IslamKedudukan Wanita Dalam IslamTujuan Hidup Menurut IslamTips Hidup Bahagia Menurut IslamNabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ “Setiap sikap kelembutan yang ada pada sesuatu, pasti akan menghiasinya. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, kecuali akan memperburuknya. HR. Muslim3. Tidak memaksaCara mengingatkan orang lain dalam Islam berikutnya adalah dengan tidak memaksakannya kepada orang lain. Ibnu Hazm Azh Zhahiri mengatakan“Janganlah kamu memberi nasehat dengan mensyaratkan nasehatmu harus diterima. Jika kamu melanggar batas ini, maka kamu adalah seorang yang zhalim…” Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 444. Ingatkan di saat yang tepatIbnu Mas’ud pernah berkata“Sesungguhnya adakalanya hati bersemangat dan mudah menerima, dan adakalanya hati lesu dan mudah menolak. Maka ajaklah hati saat dia bersemangat dan mudah menerima dan tinggalkanlah saat dia malas dan mudah menolak.” Al Adab Asy Syar’iyyah, Ibnu MuflihBaca jugaSumpah Pocong Dalam IslamPenyebab Terhalangnya Jodoh dalam IslamCara Menghindari Pelet Menurut IslamHukum akad nikah di bulan ramadhanNabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا، أَوْ لِيَصْمُتْ“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaklah berkata yang baik atau diam…”HR. Bukhari dan Muslim5. Mengingatkan dengan penuh kasihDari Anas radhiyallahu anhu, ia berkata, “Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Muttafaqun alaih. HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45.Al Khottobi rahimahullah,النصيحةُ كلمةٌ يُعبر بها عن جملة هي إرادةُ الخيرِ للمنصوح له“Nasehat adalah kalimat ungkapan yang bermakna memberikan kebaikan kepada yang dinasehati” Jami’ul Ulum wal Hikam, 1 219.Imam Nawawi rahimahullah berkata,“Menasehati sesama muslim selain ulil amri berarti adalah menunjuki berbagai maslahat untuk mereka yaitu dalam urusan dunia dan akhirat mereka, tidak menyakiti mereka, mengajarkan perkara yang mereka tidak tahu, menolong mereka dengan perkataan dan perbuatan, menutupi aib mereka, menghilangkan mereka dari bahaya dan memberikan mereka manfaat serta melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.” Syarh Shahih Muslim, 2 35.6. Selalu berwajah ceriaRasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,“Kamu tidak akan mampu berbuat baik kepada semua manusia denga hartamu, maka hendaknya kebaikanmu sampai kepada mereka dengan keceriaan pada wajahmu.” al-Hakim 1/2127. Jangan menghinaAllah berfirman,يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” QS. Al Hujurat 11Baca jugaHukum sholat jumat bagi wanitaHukum meninggalkan shalat jumatHukum menggambar makhluk hidupHukum perceraian dalam islamHukum mencium kaki ibu dalam islamHukum aqiqah dalam islam8. Mengingatkan dengan ilmuAllah Ta’ala berfirman,“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” QS. Al Isra’ 369. Tidak berisi hasutanSyeikh Ibnu Baz –rahimahullah- berkata“Nasehat itu adalah keikhlasan pada sesuatu dan tidak mengandung kecurangan dan pengkhianatan di dalamnya. Seorang muslim itu karena besarnya kedekatan dan kecintaannya kepada saudaranya, maka ia menasehati dan mengarahkannya kepada sesuatu yang bermanfaat baginya dan apa yang menurutnya tulus, tidak ada noda dan tidak ada kecurangan, seperti halnya ucapan orang Arab “Emas si pemberi nasehat” maksudnya adalah bersih dari kecurangan, dikatakan juga dengan “Madu si pemberi nasehat”, maksudnya adalah bersih kecurangan dan perpecahan”. Majmu’ Fatawa Ibnu Baaz 5/9010. Disampaikan dengan cara paling baikAllah –Ta’ala- telah berfirman ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ سورة النحل 125“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. QS. An Nahl 125Baca jugaMengenal Diri Sendiri Dalam IslamHakikat Manusia Menurut IslamKedudukan Wanita Dalam IslamTujuan Hidup Menurut IslamTips Hidup Bahagia Menurut Islam11. Dilakukan terang-terangan jika diperlukanIbnu Hazm –rahimahullah- berkata“Jika kamu ingin menasehati, maka nasehatilah dengan sembunyi-sembunyi tidak dengan terang-terangan, dengan bahasa kiasan tidak dengan bahasa lugas, kecuali jika yang dinasehati tidak memahami bahasa kiasan maka diperlukan bahasa yang lugas dan jelas. Jika kamu menyakiti wajah-wajah tersebut maka kamu seorang yang zhalim, bukan sebagai pemberi nasehat”. Al Akhlak Wa As Siyar 4512. Memberikan contohAllah –Ta’ala- berfirman mencela Bani Israil karena bertentangan antara ucapan dan tindakan merekaأَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ سورة البقرة 44“Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebajikan, sedang kamu melupakan diri kewajiban mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab Taurat? Maka tidakkah kamu berpikir?”. QS. Al Baqarah 44Itulah 12 cara mengingatkan orang lain dalam Islam. Semoga kita semua bisa selalu berada dalam lingkaran saling mengingatkan satu sama lain karena manusia terbaik adalah manusia yang selalu bermanfaat bagi orang lain m
Post Views 2,741 Ajaran Islam memberikan dampak yang sangat signifikan kepada setiap pemeluknya. Dampak tersebut mencakup hati akidah dan juga perbuatan amaliyah. Hati adalah tempat tertanamnya keimanan, keyakinan dan ketakwaan, sedangkan perbuatan adalah wujud dari ketaatan dan berserah dirinya hamba kepada Allah. Semua orang pasti dapat melihat dan menilai orang lain dari perbuatan lahiriahnya yang tampak, seperti perbuatan dan ucapan. Namun tidak ada satu pun manusia yang mampu melihat isi hati orang lain. Mengenai hal ini, Islam mengajarkan supaya kita cukup menilai seseorang dari amalan zahirnya saja. Kita bisa melihat seseorang itu baik atau buruk cukup dari perbuatan dan ucapannya. Namun untuk urusan hatinya, kita tidak akan pernah tahu. Hal yang paling fundamental dalam pembahasan kita kali ini adalah tentang keimanan dan keislaman. Iman dan Islam adalah dua hal yang berbeda jika disebutkan secara beriringan. Iman adalah amalan hati sedangkan Islam adalah ditunjukkan dengan perbuatan dan ucapan yang mencerminkan kepatuhan dan ketaatan kepada Allah. Maka, jika ada seseorang yang melakukan amalan-amalan syariat Islam shalat, puasa, dll, maka cukuplah bagi kita untuk menerimanya sebagai seorang muslim. Tidak perlu mempertanyakan apakah amalnya ikhlas atau tidak, sungguh-sungguh atau tidak, apakah imannya benar atau tidak, dan semisalnya. Itu semua di luar jangkauan pengetahuan kita, sehingga tidak perlu menyibukkan diri dengan urusan yang bukan hak kita. Kalau kita sudah melihatnya sebagai seorang muslim, maka kita diharamkan untuk membunuhnya, merampas hartanya maupun menzaliminya dalam bentuk apa pun. Dalam kitab Riyadhus Shalihin yang disusun oleh Imam An-Nawawi rahimahullah, beliau menulis judul bab ke 49 yaitu باب إجراء أحكام الناس على الظاهر وسرائرهم إلى الله تعالى “Bab Menjalankan Hukum-hukum Terhadap Manusia Menurut Zahirnya, Sedangkan Hati Mereka Terserah Allah Ta’ala” Imam An-Nawawi rahimahullah mengawali bab tersebut dengan firman Allah berikut … فَإِن تَابُوۡا وَأَقَامُوۡا الصَّلٰوةَ وَءَاتَوُا الزَّكٰوةَ فَخَلُّوۡا سَبِيۡلَهُمۡۚ إِنَّ اللّٰهَ غَفُوۡرٞ رَّحِيۡمٞ ٥ “… Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” QS. At-Taubah [9] 5. Dalam bab ini terdapat 6 hadits, namun kita akan mengambil 4 hadits saja sebagai pokok pembahasan kita. Hadits No. 390 Dari Ibnu Umar radhiallahu ’anhuma, sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda أُمِرۡتُ أَنۡ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشۡهَدُوۡا أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا رسولُ اللهِ ويُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤتُوا الزَّكاةَ، فَإِذَا فَعَلُوۡا ذَلِكَ عَصَمُوۡا مِنِّي دِمَاءَهُمۡ وَأَمۡوَالَـهُمۡ إِلَّا بِحَقِّ الۡإِسۡلَامِ، وَحِسَابُـهُمۡ عَلَى اللهِ تَعَالَى . “Aku diperintahkan untuk memerangi semua manusia, hingga mereka bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat serta menunaikah zakat. Maka jika mereka telah melakukan yang demikian itu, terpeliharalah dariku darah dan harta mereka, kecuali dengan haknya Islam, sedang hisab—perhitungan amal—mereka adalah terserah kepada Allah Ta’ala.” Shahih Al-Bukhari dan Muslim. Hadits No. 391 Dari Abu Abdillah Thariq bin Usyaim radhiallahu anhu, ia berkata “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda مَنۡ قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدًا رَسُوۡلُ اللهِ وَكَفَرَ بِـمَا يُعۡبَدُ مِنۡ دُونِ اللهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسابُهُ عَلَى اللهِ تَعَالَى . “Barangsiapa yang mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah, dan ia mengingkari segala yang disembah diibadahi selain Allah, maka haramlah harta dan darahnya, sedangkan hisab—perhitungan amalnya—terserah kepada Allah.” Shahih Muslim. Hadits No. 393 وعن أُسامةَ بنِ زَيۡدٍ ، رضي اللَّه عنهما قال بَعَثَنَا رسولُ الله ﷺ إِلَى الحُرَقَةِ مِنۡ جُهَيۡنَةَ ، فَصَبَّحۡنا الۡقَوۡمَ عَلى مِيَاهِهِمۡ، وَلحِقۡتُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الۡأَنۡصَارِ رَجُلًا مِنهُمۡ فَلَمَّا غَشِيناهُ قال لَا إِلٰهِ إلَّا الله، فَكَفَّ عَنۡهُ الأَنۡصارِيُّ، وَطَعَنۡتُهُ بِرۡمِحِي حَتَّى قَتَلۡتُهُ ، فَلَمَّا قَدِمۡنَا الۡمَدينَةَ ، بلَغَ ذلِكَ النَّبِيَّ ﷺ ، فقال لِي يَا أُسَامَةُ أَقَتَلۡتَهُ بَعۡدَ مَا قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ ؟ قُلۡتُ يا رسولَ الله إِنَّمَا كَانَ مُتَعَوِّذًا ، فَقَالَ ” أَقَتَلۡتَهُ بَعۡدَ مَا قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ؟ فَما زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمنَّيۡتُ أَنِّي لَمۡ أَكُنۡ أَسۡلَمۡتُ قَبۡلَ ذلِكَ الۡيَوۡمِ. متفقٌ عليه. وفي روايةٍ فَقالَ رسولُ الله ﷺ أَقَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَقَتَلۡتَهُ ؟ قُلۡتُ يا رسولَ اللهِ ، إِنَّمَا قَالَـهَا خَوۡفًا مِنَ السِّلاحِ ، قال أَفَلَا شَقَقۡتَ عَنۡ قَلۡبِهِ حَتَّى تَعۡلَمَ أَقَالَهَا أَمۡ لَا؟ فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا حَتَّى تَمَنَّيۡتُ أَنِّي أَسۡلَمۡتُ يَؤۡمئذٍ . Dari Usamah bin Zaid radhiallahu anhuma, ia berkata Rasulullah ﷺ mengirim kami ke daerah Huraqah dari suku Juhainah. Kami berpagi-pagi menduduki tempat air mereka. Saya dan teman saya yang dari kaum anshar bertemu dengan seorang laki-laki musuh dari kalangan mereka. Setelah kami mendekatinya, ia mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah”. Orang dari kaum anshar menahan diri dan tidak membunuhnya, sedangkan aku langsung membunuhnya dengan tombakku. Setelah kami tiba di Madinah, peristiwa itu sampai ke Rasulullah ﷺ, lalu beliau bertanya kepadaku, “Wahai Usamah, apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah?” Aku berkata, “Ya Rasulullah, sebenarnya orang itu hanya mencari perlindungan diri karena takut mati”. Rasulullah ﷺ bertanya lagi, “Apakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illallah?” Pertanyaan itu terus diulang-ulang oleh Rasulullah sehingga aku membayangkan seandainya aku belum masuk Islam sebelum hari itu.” Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Bukankah ia telah mengucapkan Laa Ilaaha Illallah, mengapa engkau membunuhnya?” Usamah menjawab, “Ya Rasulullah, ia mengucapkan itu hanya karena takut dengan senjataku.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Mengapa engkau tidak belah dadanya untuk melihat hatinya sehingga engkau bisa tahu apakah ia mengucapkannya karena takut mati atau tidak yakni karena ikhlas?” Beliau terus mengulang-ulang pertanyaan itu hingga aku mengharapkan bahwa aku masuk Islam mulai hari itu saja.” Muttafaqun alaih. Shahih Al-Bukhari 4269 dan Shahih Muslim 96. Hadits tersebut menceritakan tentang menyesalnya Usamah bin Zaid radhiallahu anhu yang telah membunuh seseorang yang telah mengucapkan “Laa Ilaaha Illallah”. Ia sampai dihujani pertanyaan oleh Rasulullah ﷺ yang berulang-ulang. Begitu menyesalnya Usamah sampai-sampai ia berharap dirinya belum masuk Islam ketika itu. Karena kalau seandainya ia baru masuk Islam di hari itu, maka ada jaminan dosanya akan diampuni oleh Allah Azza wa Jalla. Allahu A’lam. Hadits No. 395 وعن عبدِ الله بنِ عتبة بن مسعودٍ قال سمِعۡتُ عُمَر بۡنَ الخَطَّابِ رضي اللَّه عنه يقولُ إِنَّ نَاسًا كَانُوا يُؤۡخَذُونَ باِلۡوَحۡيِ في عَهۡدِ رسولِ اللهِ ﷺ ، وإِنَّ الوَحۡيَ قَدِ انۡقَطَعَ، وإِنَّمَا نَأۡخُذُكُمُ الآنَ بِما ظَهَرَ لَنَا مِنۡ أَعۡمَالِكُمۡ ، فَمَنۡ أَظۡهَرَ لَنا خَيۡرًا أَمَّنَّاهُ وقَرَّبۡنَاهُ وَلَيۡسَ لَنَا مِنۡ سَرِيرَتِهِ شَيۡءٌ ، اَللهُ يُحاسِبُهُ في سَرِيرَتِهِ ، وَمَنۡ أَظۡهَرَ لَنَا سُوۡءًا لَمۡ نأۡمَنۡهُ وَلَمۡ نُصَدِّقۡهُ وَإِنۡ قَالَ إِنَّ سَرِيرَتَهُ حَسَنَةٌ . Dari Abdullah bin Utbah bin Mas’ud ia berkata “Aku mendengar Umar bin Khatthab radhiallahu anhu berkata “Sesungguhnya seluruh manusia dahulu ditetapkan dengan hukum sesuai dengan adanya wahyu, yakni di masa Rasulullah ﷺ. Dan sesungguhnya sekarang wahyu itu telah terputus. Dan sesungguhnya sekarang kami menuntut kalian semua atas dasar apa pun yang zahir terlihat dari segala amalan yang kalian lakukan. Barangsiapa yang menampakkan perbuatan baik kepada kami, maka kami berikan keamanan dan kami dekatkan kedudukannya kepada kami, sedangkan kami tidak mempersoalkan sedikit pun tentang hatinya. Allah-lah yang akan menghisab isi hatinya itu. Dan barangsiapa yang menampakkan perbuatan buruk kepada kami, maka kami tidak akan memberikan keamanan kepadanya dan tidak akan mempercayai ucapannya, sekalipun ia mengatakan bahwa niat hatinya adalah baik.” Shahih Al-Bukhari Itulah 4 hadits yang terdapat dalam kitab Riyadhus Shalihin Bab 49, yang menunjukkan bahwa kaum muslimin hanya cukup menilai seseorang dari segala yang terlihat, baik perbuatan maupun ucapan. Sedangkan urusan hatinya, biarlah Allah yang menghisabnya, karena memang hanya Allah yang mampu. Sebagai pelengkap, ada suatu riwayat ketika Rasulullah ﷺ menerima kiriman emas dari Ali bin Abi Thalib. Rasulullah ﷺ membagi emas tersebut kepada 4 orang Uyainah bin Hishn, Al-Aqra’ bin Habis, Zaid Al-Khail, sedangkan orang keempat yaitu antara Alqamah bin Ulatsah atau Amir bin Thufail. Kemudian ada salah seorang yang berkata كُنَّا نَحۡنُ أَحَقَّ بِـهَذَا مِنۡ هَؤُلَاءِ . “Sesungguhnya kami lebih berhak menerimanya daripada mereka!” Komentar itu pun didengar oleh Rasulullah, lalu beliau ﷺ pun bersabda أَلَا تَأۡمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنۡ فِي السَّمَاءِ، يَأۡتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً . “Apakah kalian tidak mempercayaiku sedangkan aku adalah manusia kepercayaan Dzat yang berada di langit? Dan aku juga menerima wahyu dari langit di waktu pagi dan petang.” Kemudian berdirilah seseorang yang matanya cekung, tulang pipinya cembung, dahinya menonjol, jenggotnya lebat, kepalanya gundul dan kain sarungnya disingsingkan, lalu ia berkata يَا رَسُولَ اللهِ، اِتَّقِ اللهَ ! “Ya Rasulullah, bertakwalah kepada Allah!” Rasulullah pun berkata وَيۡلَكَ! أَوَلَسۡتُ أَحَقَّ أَهۡلِ الۡأَرۡضِ أَنۡ يَتَّقِيَ اللهَ . “Celakalah kamu! Bukankah aku adalah penduduk bumi yang paling bertakwa kepada Allah?!” Orang itu pun pergi, dan Khalid bin Walid yang melihat kejadian itu berkata يَا رَسُولَ اللهِ، أَلَا أَضۡرِبُ عُنُقَهُ ؟ “Ya Rasulullah, bolehkah kupenggal lehernya?” Rasulullah ﷺ bersabda لَا، لَعَلَّهُ أَنۡ يَكُونَ يُصَلِّي . “Jangan. Barangkali ia masih mengerjakan shalat.” Khalid bin Walid berkata وَكَمۡ مِنۡ مُصَلٍّ يَقُولُ بِلِسَانِهِ مَا لَيۡسَ فِي قَلۡبِهِ . “Berapa banyak orang yang shalat namun ia mengucapkan dengan lisannya sesuatu yang tidak ada dalam hatinya.” Rasulullah ﷺ bersabda إِنِّي لَـمۡ أُومَرۡ أَنۡ أَنۡقُبَ عَنۡ قُلُوبِ النَّاسِ وَلَا أَشُقَّ بُطُونَـهُمۡ . “Sesungguhnya aku tidak diperintahkan untuk melihat isi hati manusia dan tidak pula isi perutnya.” Shahih Al-Bukhari 4351 dan Muslim 1064. _________________________ Saudaraku sekalian, manusia tidak akan pernah bisa melihat dan menilai isi hati orang lain. Maka, tidak sepantasnya kita menduga-duga isi hati orang lain. Tidak sepantasnya pula kita menganggap orang lain tidak beriman sementara mereka masih menerima kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah dan mereka masih shalat. Nabi Muhammad ﷺ sendiri menjadikan alasan tersebut sebagai dasar untuk menilai manusia berdasarkan perbuatan lahiriahnya, yaitu shalat. Rasulullah ﷺ tidak diperintahkan untuk mempersoalkan isi hati umatnya, dan sikap ini juga yang diikuti oleh sahabat yang mulia, Amirul Mukminin Umar bin Khatthab radhiallahu anhu. Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita mengambil sikap yang sama dengan panutan kita, sosok figur yang sangat mulia ini, Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Allahu A’lam… * * *
menilai orang lain menurut islam